jadilah unik, karena kamu diciptakan berbeda

WAJIB UNTUK DI BACA

Bagi anda, Bapak/Ibu dan Saudara/i, saya mengharapkan untuk merespon minimal dengan cara meninggalkan pesan di icon BUKU TAMU dekat scrool sebelah kanan, atau mengisi coment di bagian bawah postingan saat anda hanya sekedar membaca blog ini, atau mencopy informasi dari blog ini, sebagai suatu apresiasi untuk blog ini. Anda juga dapat chat dengan saya langsung seputar psikologi saat saya sedang online pada room chat yang tersedia, dan saya akan berusaha membantu anda.

- SELAMAT MEMBACA-

Rabu, 19 Mei 2010

Gangguan Berbahasa

Gangguan Variasi berbicara psikogenik :
1. berbicara manja
disebut demikian karena ada kesan anak (orang) yang melakukanya meminta perhatian untuk dimanja. umpamanya anak2 yang baru terjatuh, terluka atau mendapat kecelakaan, terdengar adanya perubahan pada cara berbicaranya, fonem atau bunyi [S] dilafalkan sebagai bunyi [C] sehingga kalimat "Saya sakit, jadi tidak suka makan, sudah saja, ya" akan di ucapkan menjadi " Caya cakit, jadi tidak cuka makan, udah caja, ya".
dengan berbicara demikian mengungkapkan keinginannya untuk dimanja. gejala seperti ini kita dapati juga pada orang tua pikun atau jompo (biasanya Wanita). gejala ini memberikan kesan bahwa struktur bahasa memiliki substrat serebal. namun bagaimana struktur organisasinya belum diketahui dengan jelas. masih dalam penelitian.

2. Berbicara kemayu
Berbicara kemayu (istilah dari Sidharta, 1989) berkaitan dengan perangi kewanitaan yang berlebihan. jika seseorang pria bersifat atau bertingkah laku kemayu jelas sekali gambaran yang dimaksudkan oleh tersebut. berbicara kemayu dicirikan oleh gerak bibir dan lidah yang menarik perhatian dan lafal yang dilakukan secara ekstra menonjol atau ekstra lemah gemulai dan ekstra memanjang (inggris : lisp; Belanda ; lispelen). meskipun berbicara seperti ini bukan suatu gangguan ekspresi bahasa, tetapi dapat dipandang sebagai sindrom fonologik yang mengungkapkan gangguan identitas kelamin terutama jika yang dilanda adalah kaum pria.

3. Berbicara Gagap
gagap adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya dan setelah berhasil mengucapkan kata2 itu kalimat dapat diselesaikan. seringkali pembicara tidak berhasil mengucapkan suku kata awal, hanya dengan susah payah berhasil mengucapkan konsonan atau vokal awalnya saja. lalu dia memilih kata lain, dan berhasil menyelesaikan kalimat tersebut meskipun dengan susah payah juga. dalam usahanya mengucapkan kata pertama yang barangkali gagal, si pembicara menampakan rasa letih dan rasa kecewanya.

Penyebab terjadinya gagap ini belum diketahui secara tuntas. namun, hal-hal berikut dianggap mempunyai peranan dalam menyebabkan terjadinya kegagapan itu.
a> Faktor "stres" dalam kehidupan keluarga.
b> Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan ketat, dengan membentak-bentak; serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c> Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d> Faktor neurotik famial.

Dulu ada anggapan bahwa gagap terjadi karena adanya pemaksaan, untuk menggunakan tangan kanan pada anak2 yang kidal. namun, kini anggapan tersebut tidak dapat dipertahankan. menurut sidharta (1989) kegagapan adalah disfasia yang ringan. kegagapan ini lebih sering terjadi pada kaum laki-laki dari pada kaum perempuan, dan lebih banyak pada golongan remaja dari pada golongan dewasa (Chauchard, 1983.


4. Berbicara Latah

Latah sering disamakan dengan ekolalla, yaitu perbuatan membeo atau menirukan apa yang dikatakan orang lain; tetapi sebenarnya latah adalah suatu sindrom yang terdiri atas curah verbal repretitif yang bersifat jorok (koprolalla) dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing. Koprollla pada latah ini berorientasi pada alat kelamin laki-laki. yang sering dihinggapi penyakit latah adalah orang perempuan berumur 40 tahun keatas. awal mula timbulnya latah ini, menurut mereka yang terserang latah, adalah setelah bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki sebesar dan sepanjang belut. latah ini punya korelasi dengan kepribadian histeris. kelatahan ini merupakan "excuse" atau alasan untuk dapat berbicara dan bertingkah laku porno, yang pada hakikatnya berimplikasi invitasi seksual (lihat juga W.F. Maramis, 1998: 416-418)

Refreensi : Chaer. A. 2003. psikolinguistik kajian teoritik. Jakarta : PT Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TULIS KOMENTAR ANDA

postingan yang banyak dicari

5 Popular Post