jadilah unik, karena kamu diciptakan berbeda

WAJIB UNTUK DI BACA

Bagi anda, Bapak/Ibu dan Saudara/i, saya mengharapkan untuk merespon minimal dengan cara meninggalkan pesan di icon BUKU TAMU dekat scrool sebelah kanan, atau mengisi coment di bagian bawah postingan saat anda hanya sekedar membaca blog ini, atau mencopy informasi dari blog ini, sebagai suatu apresiasi untuk blog ini. Anda juga dapat chat dengan saya langsung seputar psikologi saat saya sedang online pada room chat yang tersedia, dan saya akan berusaha membantu anda.

- SELAMAT MEMBACA-

Kamis, 25 November 2010

Penyebab Anak Menjadi Nakal



Kenakalan, sebenarnya adalah hal yang normal bagi anak-anak dalam tahap perkembangan kanak-kanak. Mereka sedang belajar untuk mengontrol tubuh mereka sendiri, memahami lingkungan sekitarnya, serta belajar nilai-nilai dalam keluarga dan masyarakat. Mereka banyak melakukan percobaan (eksperimen) terhadap sesuatu yang menarik perhatian dan belum mereka ketahui: bagian tubuh, hewan-hewan, perkakas di rumah, tumbuh-tumbuhan dan obyek-obyek lainnya. Sayangnya, dalam bereksperimen mereka sering lalai dan ceroboh, hasilnya, eksperimen mereka sering kali membuat orang tua dan orang di sekitarnya menjadi jengah dengan ulah mereka: kotoran berserakan, perkakas berantakan, baju belepotan, perabot pecah, jatuh saat berlari, sampai konflik sesama anak-anak.

Terang saja, menurut Jean Piaget, seorang tokoh psikologi, mereka masih berada dalam tahap perkembangan kognitif pra-operasional (sekitar usia 2—7 tahun). Pada tahap ini anak sering kali secara kognitif salah dan irasional dalam memahami sesuatu, kemampuan kognitif (pikiran) mereka masih belum sempurna. Misalnya, anak yang mendapati pakaiannya semakin lama semakin kecil dan tidak pas dipakai, biasanya akan berpikir secara irasional bahwa pakaian itu bisa mengecil jika lama dipakai, padahal sebenarnya bukan pakaian yang menjadi kecil, akan tetapi dialah yang semakin membesar tubuhnya. Mereka juga sering salah dalam menentukan mana yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima secara moral. Kohlberg yang juga seorang tokoh psikologi menyebut anak-anak masih berada dalam tahapan moral pra-konvensional (terjadi kira-kira sebelum usia 9 tahun). Pada tahap ini anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral anak dikendalikan oleh imbalan/hadiah dan hukuman internal. Anak-anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat, karena jika tidak mereka akan mendapat hukuman. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah dan kesenangan.
Namun, anak yang sering menunjukkan ketidakpatuhan, suka melanggar aturan perilaku baik di rumah maupun di sekolah, seperti suka berkelahi, berbuat rusuh, sulit bekerja sama, kurang ajar, sering gelisah dan berbohong, serta sering menunjukkan temper tantrum (marah, menolak dengan menjerit-jerit) tidak dapat dikatakan normal dalam level perkembangan di mana mestinya ia bisa mematuhi aturan yang ada, yang telah ia ketahui. Anak yang menunjukkan perilaku seperti ini patut diwaspadai oleh orang tua khususnya dan orang yang ada di sekitarnya agar mendapatkan perhatian khusus, dan mendapat penanganan, sehingga anak tersebut tidak terus berkembang menjadi anak yang menyusahkan anggota keluarga lainnya dan lingkungan sekitar. Selain itu anak yang tidak mendapat penanganan yang tepat, besar kemungkinan perilaku tersebut akan di bawa sampai dewasa, jika demikian, maka ia berpotensi menjadi orang yang anti-sosial (suka melawan norma masyarakat, seperti melakukan tindakan kriminal) dan perilakunya menjadi sangat sulit untuk bisa diubah.

Orang tua tidak boleh menganggap anaknya yang sering melakukan ciri-ciri perilaku di atas sebagai sesuatu yang wajar, dan terus-menerus menolerir tindakan yang merugikan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Orang tua, karena berbagai sebab (misalnya karena terlalu sayang), seringkali membuat-buat alasan (rasionalisasi) yang sebenarnya tidak logis agar dapat menerima perilaku anaknya yang melanggar aturan atau perintah itu. Cara orang tua dalam menangani masalah (coping problem) seperti ini akan manjadi bomerang tidak hanya bagi diri orang tua (karena ia akan terus-menerus terusik dan mendapat perlawanan), tetapi juga bagi anaknya. Anak menjadi tidak paham terhadap mana yang boleh/baik/harus dilakukan dan yang mana yang tidak boleh, buruk dan harus ditinggalkan. Alhasil, orang tua turut serta membentuk anaknya menjadi pribadi sulit dikontrol.

Apa Sebabnya?
Sebenarnya perilaku anak yang suka melanggar norma tersebut dipelajari secara terpaksa/tidak sengaja, sebagai cara untuk menunjukkan kontrol anak terhadap perilaku orang tua mereka. Perilaku pembangkangan pada anak memang tidak dapat lepas dari cara orang tua memperlakukan anaknya. Pembentukan perilaku-perilaku pembangkangan oleh anak tersebut terjadi dalam beberapa cara, antara lain:

...Baca selanjutnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TULIS KOMENTAR ANDA

postingan yang banyak dicari

5 Popular Post