EMOSI
Mengendalikan emosi itu penting. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa emosi mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan diri kepada orang lain. Orang-orang yang kita jumpai dirumah atau dikantor akan lebih cepat menanggapi emosi kita dari pada kata-kata kita. Kalau kita sampai dirumah dengan wajah murung, bahkan terkesan “CEMBERUT” dan marah-marah, emosi anggota keluarga kita yang lain akan bereaksi terhadap emosi tersebut, sehingga mereka merasa tidak enak atau merasa bersalah, dan sebagainya. Sebaliknya, apabila kita tampak riang dan ceria, mereka pun akan ikut bergembira. Dengan demikian, emosi kita pun mempengaruhi emosi orang-orang disekitar kita.
Sehubungan dengan hal tersebut, ada beberapa peraturan untuk MENGENDALIKAN EMOSI (Mahmud, 1990, dalam psikologi umum Drs. Alex sobur, M.Si).
1. Hadapilah Emosi Tersebut. Orang yang membual bahwa tidak takut menghadapi bahaya, sebenarnya melipatduakan rasa takutnya sendiri. Bukan saja takut menghadapi bahaya yang sebenarnya, tetapi juga takut menemui bahaya. Sumber emosi tambahan ini dapat dihindarkan dengan jalan menghadapi kenyataan yang ditakutkan atau kenyataan yang menyebabkan timbulnya perasaan marah.
2. Jika mungkin, tafsirkanlah kembali situasinya. Emosi adalah bentuk dari suatu intepretasi. Bukan stimulasi sendiri yang menyebabkan atau mengakibatkan reaksi emosional, tetapi stimulus yang salah ditafsirkan. Misalnya, anak biasanya menunjukan perasaan takut jika diayun-ayunkan, tetapi kalau tindakan mengayun-ayunkan itu disertai dengan senda gurau, anak bahkan menanggapinya dengan perasaan senang. Contoh lain misalnya, seorang pegawai dicekam perasaan takut karena dipanggil menghadapi atasnya; perasaan takut ini bias dikurangi kalau pegawai tersebut menafsirkan panggilan itu bukan didorong oleh ketidaksenangan, tetapi dirorong oleh keinginan atasanya untuk memperoleh suatu penjelasan. Reinterpretasi itu bukanlah hal yang mudah, sebab memerlukan orang lain untuk melihat situasi sullit yang dialaminya dari sudut pandang yang berbeda.
3. Kembangkanlah rasa humor dan sikap realistis. Terkadang situasi itu begitu mendesaknya sehingga memerlukan intepretasi yang lama. Dalam hal seperti itu, humor dan sikap realistis dapat menolong. Tertawa bias meringankan ketegangan emosi. Energy ekstra yang disediakan oleh perubahan-perubahn internal harus disalurkan. Karena itu, untuk bias kembali santai, orang perlu melakukan suatu kegiatan.
4. Atasilah problem-problem yang menjadi sumber emosi. Memecahkan problem, pada dasarnya jauh lebih baik ketimbang mengendalikan emosi yang terkait dengan problem tersebut. Misalnya, dari pada berusaha mengendalikan perasaan takut akan kehilangan suatu posisi, lebih baik berusaha membina diri dan menjadi ahli dalam suatu pekerjaan yang berkaitan dengan posisi tersebut; dari pada takut menghadapi situasi social, lebih baik belajar menguasai kecakapan dan keterampilan-keterampilan social agar diperoleh kemantapan dan kepercayaan pada diri sendiri.
( KITA TIDAK BOLEH MENJADI BUDAK DARI EMOSI, TETAPI HARUS MENJADI TUAN DARI EMOSI KITA, Wedge (1995:17) )
WAJIB UNTUK DI BACA
Bagi anda, Bapak/Ibu dan Saudara/i, saya mengharapkan untuk merespon minimal dengan cara meninggalkan pesan di icon BUKU TAMU dekat scrool sebelah kanan, atau mengisi coment di bagian bawah postingan saat anda hanya sekedar membaca blog ini, atau mencopy informasi dari blog ini, sebagai suatu apresiasi untuk blog ini. Anda juga dapat chat dengan saya langsung seputar psikologi saat saya sedang online pada room chat yang tersedia, dan saya akan berusaha membantu anda.
- SELAMAT MEMBACA-
Kamis, 24 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TULIS KOMENTAR ANDA